Salah Satu Sumber Distraksi Hidup Anda itu Adalah Media Sosial


Saya menulis ini setalah sehari sebelumnya presentasi ke klien mengenai evolusi gaya hidup Gen-Z yang sekarang ini "katanya" cenderung lebih 'mindful', lebih berorientasi pada kualitas daripada kuantitas, lebih peduli sama kesinambungan, lebih tidak impulsif dalam pengeluaran, dan seterusnya. Dari You Only Live Once (YOLO), berevolusi menjadi You Only Need One (YONO). Dari Fear of Missing Out (FOMO) berevolusi menjadi Joy of Missing Out (JOMO).

Mungkin saja tren yang asalnya dari "luar" ini ada benarnya sudah menular ke Indonesia, dan menurut saya evolusi ini cukup baik untuk di adaptasi ke dalam gaya hidup konsumen negeri konoha yang katanya suka banget minum 'Coffee Latte' dan 'Americano' setiap hari. Meskipun informasi mengenai evolusi gaya hidup konsumen Gen-Z ini sudah beredar di dunia maya sejak tahun 2019, dan mulai merebak di tahun 2024, saya yakin informasi yang positif terkait gaya hidup yang "lebih baik" ini belum tentu sampai dihadapan para pembaca, apalagi sampai menjadi hidayah. 

Ya memang kadang "Hidayah" itu datang ke setiap dengan cara yang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan.

Anyway... 

Zaman sekarang informasi itu sangat berlimpah. Cari apa saja di Search Engine, di Media Sosial, atau nanya sama Generative AI, semua ada jawabannya. Tapi sadar enggak sih kalau semua informasi yang berlimpah itu sesungguhnya hanya segelintir informasi saja yang berguna buat diri kita? Sayangnya lagi, dengan percepatan digitalisasi saat ini, masih banyak orang Indonesia yang tidak memiliki literasi media yang baik, dan tidak memiliki kemampuan untuk menjadi gatekepeer informasi setidaknya untuk diri sendiri.

Misalnya... 

Linimasa anda dipenuhi dengan konten-konten seperti: Perbandingan harga jam tangan mewah pejabat-pejabat di Indonesia, daftar menteri terkaya di Indonesia, artis yang bercerai karena masalah ekonomi,  daftar mobil-mobil para wakil rakyat pada saat pertama kali dilantik, destinasi wisata pilihan orang-orang kaya di Indonesia, dan seterusnya. 

Jika linimasa anda isinya informasi seperti itu, berarti algoritma media sosial anda membaca ketertarikan anda pada informasi-informasi tersebut, dan sebenarnya tidak ada masalah jika anda punya mencerna informasi tersebut dengan cara yang konstruktif. Tapi pertanyaan, apakah semua orang bisa? Apakah dengan mengkonsumsi informasi seperti itu rakyat pada umumnya bisa memahami bahwa:

  1. Gaya hidup dan kekayaan yang dimiliki oleh sebagian pejabat adalah sesuatu yang misterius dan cenderung untuk ditutup-tutupi.
  2. Citra merakyat itu hanya ilusi yang dibangun untuk kepentingan politik dan tidak menggambarkan realita nyata kehidupan yang sesungguhnnya.
  3. Sumber pendapatan sebagian pejabat perlu diungkap seluas-luasnya karena tidak sesuai dengan informasi yang disampaikan ke publik.
  4. sistem ekonomi yang terjadi di dalam ekosistem pejabat negara adalah sistem ekonomi yang eksklusif dan mempunyai aturan yang bisa jadi berbeda dengan sistem ekonomi yang dikenal pada umumnya.
  5. Anda tidak akan bisa punya rumah mewah, mobil mewah, jam tangan mewah, dan berlibur ke destinasi super kaya jika anda tidak masuk ke dalam ekosistem tersebut, tidak "bermain" dengan "aturan main" di dalam ekosistem tersebut. Kerja keras anda tidak akan membuahkan hasil yang sama.
  6. Anda adalah donatur gaya hidup mewah para pejabat.
Jika anda bisa "making sense" poin-poin di atas, mungkin kemampuan anda untuk mengaitkan sebuah informasi dengan berbagai konteks bisa dikatakan cukup baik. Tapi bagaimana dengan kebanyakan orang Indonesia yang membaca saja malas?

Kembali lagi ke masalah kebermanfaatan informasi...

Pernah tidak anda bertanya pada diri anda sendiri: Apakah informasi-informasi itu berkontribusi pada kualitas hidup anda? Apakah informasi tersebut menunjang produktivitas pekerjaan anda?

Kalau sudah pernah bertanya seperti itu, ya... itu sudah permulaan yang baik...

Contoh lagi:

Linimasa anda isinya foto-foto dan video-video cewek-cewek sexy dan cowok-cowok ganteng, gosip selebriti terkini, si artis itu baru nikah, yang ini baru cerai, pemain film mengaku pernah tidur dengan banyak perempuan, si A berpendapat tentang kasus si B, dan juga sebaliknya...(capek deh... 😂😂😂😂😂)

Atau:

Linimasa anda dipenuhi dengan konten-konten yang membahas tatapan maut Sekretaris Kabinet pada anggota Paspampres, Wakil Presiden Indonesia kerjanya cuma bagi-bagi susu sama buku tulis, Mantan Presiden Indonesia yang setiap cosplay jadi Presiden Republik Indonesia yang sedang menjabat, Seorang artis yang juga anggota DPR meracau dengan bahasa Inggris dalam sebuah forum publik, Petugas kawal dari utusan khusus presiden berperilaku arogan di kemacetan padahal tidak ada pejabat yang dikawalnya, dan seterusnya... (penting banget ya? 😓😓😓)

Lagi-lagi pernah enggak anda bertanya... Apakah semua informasi tersebut membawa kebaikan pada hidup anda? Apakah dengan mengetahui apa yang terjadi sama orang lain berkontribusi pada ketenangan jiwa anda? Dan jika anda mendapati informasi tersebut di linimasa anda, apakah anda bisa memaknai dengan baik informasi yang tidak berguna itu?

Saya malah khawatir anda bisa terjangkit penyakit jika terlalu sering mengkonsumsi informasi seperti itu. Setidaknya terjangkit penyakit hati... 

Dari curahan hati yang singkat ini, saya hanya mau bilang... Anda bisa LOH mengubah hidup anda dengan mengubah perilaku Media Sosial anda. Coba masing-masing kita ingat kembali bahwa kita ini adalah manusia yang punya pikiran yang BERDAYA untuk meregulasi segala tindakan-tindakan kita. Jangan sampai pikiran anda dimatikan oleh algoritma media sosial. Mulai sekarang ubah algoritma Media Sosial anda dengan tindakan yang penuh kesadaran. 

Setiap anda ketagihan pada suatu konten tertentu, tanyakan kembali: Apakah saya membutuhkan informasi ini untuk hidup saya? 

Mudah-mudahan anda dimampukan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa. Aamiin. 

Komentar