Piramida Makanan AS 2025 Yang Kontroversial dan Anti Makanan Ultra Olahan


Tentu saya tidak bicara mengenai piramida makanan yang di Indonesia. Tapi mengenai Piramida Makanan Baru yang diperkenalkan oleh Robert F. Kennedy, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, dan Brooke Rollins, Menteri Pertanian Amerika Serikat pada Januari 2026 lalu. Sebagai negara peng-ekspor budaya tersebar di dunia, yang juga meliputi makanan dan minuman, diperkenalkannya 'The 2025–2030 Dietary Guidelines for Americans' oleh pejabat negara bisa jadi sesuatu sangat yang kontroversial. Piramida Makanan 'Terbalik' yang menjadi panduan makanan bergizi bagi orang Amerika ini sangat  kontras dengan produk dan budaya makanan (dan minuman) masyarakat Amerika Serikat yang selama 40 tahun sangat dekat dengan makanan ultra olahan dan makanan sampah (junk food), yang juga merupakan komoditas impor AS yang terdistribusi ke berbagai negara di belahan dunia. 


Apa yang berubah dari Panduan Makanan Yang Sebelumnya?

Sebagai orang yang berusaha untuk menjaga pola makan sambil menghindari kambuhnya penyakit asam urat dan ancaman hipertensi, membaca panduan terbaru ini saja membuat saya harus 'mengosongkan gelas' saya dari apa yang selama ini sudah diajarkan oleh praktisi kesehatan dan bahkan para orang tua saya. Perhatikan tabel dibawah ini dan perhatikan bagaimana fundamentalnya perubahan yang ditawarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian USA kepada masyarakatnya:  

Tabel Perbandingan Panduan Makan Sebelumnya dan yang Baru

Feature

MyPlate/ Piringku 
(Panduan Sebelumnya)

Piramida Baru 2025-2030

(Panduan Baru)

Fokus Utama

Porsi biji-bijian (grains), Sayuran (vegetables), Buah (fruits), dan Protein yang seimbang

Protein, lemak sehat, dan makanan utuh (whole foods)

Produk Susu (Dairy)

Lebih baik memilih yang rendah lemak (low fat) atau bebas lemak

Disarankan produk susu penuh/ tinggi lemak (full-fat) 

Kacang-Kacangan (Grains)

Komponen mayoritas dari asupan harian

Diminimalisir, disarankan hanya mengkonsumsi biji-bijian utuh

Lemak Jenuh (Saturated Fats)

Dibatasi <10% dari kalori

Digolongkan sebagai bagian dari ‘Lemak Sehat’.

Tabel dirangkum dengan menggunakan AI.

Panduan Baru Yang Mengajak Masyarakat Untuk Menjauh Dari Makanan Ultra Olahan (Highly-Processed Foods/ Ultra-Processed Foods/ UPF)

Sebelum menjadi Menteri Kesehatan, Robert F. Kennedy, Jr ini seringkali di cap sebagai kandidat calon presiden AS independen yang suka mengangkat teori-teori konsipasi di dalam kampanyenya. Salah satu konspirasi yang sering diangkatnya terkait asupan makanan yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat AS sebagai asupan makanan yang malah membuat masyarakat sakit dan menguntungkan industri kesehatan seperti farmasi, rumah sakit, dan industri asuransi. Dalam kampanyenya Kennedy juga menekankan bahwa apa yang dimakan oleh masyarakat selama beberapa dekade ke belakang itu tidak masuk akal dan sudah jauh berevolusi dari apa yang dikonsumsi oleh orang-orang pada zaman dahulu. Sehingga melalui reformasi panduan makanan ini, Kennedy ingin mengembalikan "akal sehat" (common sense) dalam asupan diet harian dengan menjauhi makanan-makanan yang sudah melalui proses industri seperti makanan Ultra Olahan.

Sudah banyak studi yang mengasosiasikan Makanan Ultra Olahan dengan Penyakit Tidak Menular (PTM)/ Non-Communicable Disease (NCD) seperti Penyakit Kardiovaskular, Diabetes, Hipertensi, Kanker, Penyakit Pernapasan Kronik, dan juga Penyakit Metabolik seperti Obesitas. Di Amerika sendiri Makanan Ultra Olahan merupakan lebih dari 50% asupan diet harian yang dikonsumsi orang Amerika, dan lebih dari 18% sebagai asupan makanan untuk anak-anak. Hari ini 40% orang Amerika menderita penyakit Obesitas, 18,5% anak-anak Amerika dianggap obesitas, dan tren pertumbuhan obesitas di Amerika mencapai 30% sejak tahun 2020. PTM menyumbang 80,7% dari total kematian di Amerika, yang terdiri dari 34,8% disebabkan penyakit kardiovaskular, 23,4% karena Kanker, 9,2% karena penyakit pernapasan kronis, dan 4,9% diabetes. Lebih dari sepertiga kematian akibat PTM di Amerika terjadi pada usia dibawah 70 tahun. Dari sejumlah data ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa kondisi kesehatan publik di AS saat ini sedang berada pada kondisi yang tidak baik-baik saja.

Namun tentu saja upaya untuk mereformasi Panduan Makanan Nasional yang "Anti-UPF" itu bukan jalan yang mudah.

Meskipun sudah didukung oleh berbagai studi dan data yang meyakinkan, beberapa pihak mengatakan bahwa kampanye anti-UPF yang memberi label "tidak sehat" pada UPF adalah kampanye yang mengabaikan fakta bahwa setiap orang membutuhkan nutrisi yang berbeda, mengabaikan sisi kualitas dari makanan (nutritional nuances), dan juga mengabaikan realitas ekonomi masyarakat. Data juga mengatakan bahwa kelompok yang paling banyak mengkonsumsi dan rentan terdampak UPF adalah kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Perlawanan terhadap kampanye Anti-UPF dari Pemerintah Amerika tentu datang dari pelaku industri makanan yang mengatakan bahwa rantai pasok makanan yang sudah ada akan terganggu akibat kampanye Anti-UPF. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan beban biaya yang lebih tinggi. Selain itu, pelaku industri makanan juga mengatakan kampanye anti-UPF ini terlalu fokus pada sisi "proses" nya saja, namun mengabaikan sisi "kepadatan nutrisi" (nutrient density) dan juga aspek keamanan dari makanan proses itu sendiri. Disamping itu juga ada kelompok yang berargumen bahwa kampanye anti-UPF ini adalah sebuah bentuk kampanye elitist/ elitisme yang menjelek-jelekan UPF yang nyatanya mudah diakses dan terjangkau bagi masyarakat luas yang cenderung punya keterbatasan waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan dan mengkonsumsi makanan Non-UPF. Argumentasi ini memposisikan "makanan sehat" sebagai sebuah kemewahan (luxury).

Terlepas dari kompetisi narasi antara pemerintah AS dengan kampanyenya "Make America Health Again"/ Bikin Amerika Sehat Kembali (MAHA), dengan para pelaku industri dan para pendukungnya, minat (interest) rakyat Amerika terhadap pesan MAHA yang anti-UPF bisa dibilang tinggi. 72% masyarakat AS menaruh minat terhadap pesan kampanye tersebut dan menyatakan bahwa mereka berupaya untuk menghindari UPF dari diet harian mereka. Bahkan dibeberapa negara bagian sudah melakukan aksi hukum yang signifikan. Seperti di California yang melarang kategori UPF tertentu untuk menjadi menu makan siang di sekolah-sekolah, dan di San Francisco yang melayangkan somasi kepada top manufaktur makanan karena dampak kesehatan yang diakibatkan.

Dinamika sosial, politik, dan hukum akibat dari sebuah panduan makanan di Amerika bisa menjadi pelajaran yang menarik bagi Indonesia yang saat ini juga sedang memiliki diskursus yang hangat terkait UPF, Kesehatan Masyarakat, dan juga Program Makan Bergizi Gratis dari Pemerintah. Seperti apa ya nantinya masa depan diskursus ini di tanah air?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Karakteristik Rakyat Indonesia Dari Komunikasi Publik Pemerintah

Salah Satu Sumber Distraksi Hidup Anda itu Adalah Media Sosial